Menbud Fadli Zon Resmikan Museum Keris Indonesia di TMII, Perkuat Pelestarian Warisan Budaya dan Identitas Bangsa

Berita190 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, meresmikan Museum Keris Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada (16/10/2026).

Peresmian ini menandai langkah strategis pemerintah dalam memperkuat pelestarian warisan budaya Nusantara sekaligus mendorong transformasi museum menjadi pusat edukasi, riset, informasi, dan pengembangan ekonomi budaya.
Perubahan nama dari Museum Pusaka menjadi Museum Keris Indonesia bukan sekadar pergantian identitas kelembagaan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempertegas posisi keris sebagai warisan budaya takbenda yang memiliki nilai sejarah, seni, teknologi tradisional, pengetahuan, serta filosofi kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam keterangannya pada (17/10/2026), Fadli Zon menegaskan bahwa keris harus dipahami secara lebih luas, tidak semata-mata sebagai senjata, benda pusaka, ataupun objek yang dilekatkan dengan hal-hal mistik. Keris merupakan salah satu ekspresi kebudayaan yang mencerminkan kekayaan pengetahuan dan kreativitas masyarakat Nusantara.

Menurutnya, keberadaan keris memperlihatkan betapa luas dan beragamnya khazanah kebudayaan Indonesia sebagai bangsa dengan cultural mega diversity atau kemajemukan budaya yang luar biasa.

“Keris merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia. Di balik bentuk bilah, ragam pamor, dan keindahan estetikanya, tersimpan filosofi, pengetahuan, serta keterampilan para empu yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Fadli Zon.

Revitalisasi Museum Harus Melampaui Pembenahan Fisik

Fadli Zon menjelaskan, revitalisasi museum merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat peran museum dalam kehidupan masyarakat. Museum tidak boleh berhenti sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi harus berkembang menjadi ruang pembelajaran yang hidup, terbuka, dan relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.

“Kita harapkan museum-museum ini bisa menjadi pusat edukasi, pusat budaya, pusat informasi, dan juga menjadi cultural enclave atau kantong budaya. Dan kita harapkan nanti akan menjadi satu ekonomi budaya untuk memperkuat jati diri identitas bangsa,” kata Fadli Zon.

Ia menekankan bahwa revitalisasi museum tidak cukup dilakukan melalui renovasi bangunan, penataan ruang, atau peningkatan fasilitas fisik. Pembaruan harus disertai dengan penguatan tata kelola kelembagaan, kurasi koleksi, penelitian, digitalisasi, pengembangan narasi sejarah, serta perluasan akses masyarakat terhadap pengetahuan kebudayaan.

Dengan pendekatan tersebut, museum diharapkan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih menarik dan edukatif bagi pengunjung. Koleksi yang selama ini tersimpan di ruang pamer harus dapat berbicara kepada publik melalui informasi yang akurat, narasi yang kuat, serta penyajian yang kontekstual.

Transformasi ini juga penting untuk mendekatkan museum kepada generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi informasi, museum dituntut menghadirkan metode pembelajaran yang kreatif tanpa menghilangkan ketelitian sejarah dan nilai autentik koleksinya.

Menegaskan Identitas Keris Sebagai Warisan Budaya Dunia

Peresmian Museum Keris Indonesia sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan tradisi perkerisan Nusantara.

Keris telah memperoleh pengakuan UNESCO pada 2005 dan tercatat dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008. Pengakuan internasional tersebut menegaskan pentingnya keris sebagai warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga mencakup pengetahuan, keterampilan, tradisi, dan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Bagi Indonesia, pengakuan tersebut bukan sekadar kebanggaan simbolis. Status warisan budaya takbenda harus diikuti dengan upaya nyata untuk menjaga keberlangsungan tradisi, mendukung para empu, memperkuat regenerasi perajin, mendokumentasikan pengetahuan tradisional, serta memperluas pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam keris.

Dalam konteks inilah, Museum Keris Indonesia memiliki posisi strategis. Museum dapat menjadi ruang dokumentasi dan pembelajaran mengenai sejarah keris, perkembangan bentuk dan teknik pembuatannya, ragam pamor, serta hubungan keris dengan kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat di berbagai daerah.

Fadli Zon mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses revitalisasi museum. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, pengelola TMII, para empu, budayawan, dan komunitas perkerisan merupakan unsur penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.

Perubahan nama museum, lanjutnya, diharapkan tercermin secara nyata dalam pengelolaan koleksi, penyusunan storyline, narasi kuratorial, hingga pengembangan program edukasi yang mampu memberikan pengalaman baru bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

6.021 Koleksi Merepresentasikan Keragaman Tradisi Perkerisan Nusantara

Museum Keris Indonesia memiliki 6.021 koleksi yang terdiri atas keris, tombak, pedang, serta sejumlah koleksi keramik. Keragaman koleksi tersebut menggambarkan kekayaan tradisi persenjataan, seni kriya, dan perkembangan kebudayaan yang tumbuh di berbagai wilayah Nusantara.

Tradisi keris tidak terbatas pada masyarakat Jawa. Keris juga berkembang di Sumatra, Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, Kalimantan, hingga wilayah timur Indonesia. Bahkan, tradisi perkerisan memiliki keterkaitan historis dan kebudayaan dengan sejumlah kawasan Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina.

Keragaman geografis tersebut menunjukkan bahwa keris merupakan bagian dari dinamika kebudayaan yang luas. Bentuk bilah, motif pamor, teknik pengerjaan, bahan, serta fungsi sosialnya dapat berbeda sesuai dengan lingkungan budaya dan tradisi masyarakat pendukungnya.

Karena itu, penyajian koleksi di Museum Keris Indonesia perlu didukung penjelasan yang komprehensif mengenai asal-usul, konteks sejarah, karakteristik daerah, dan nilai budaya setiap koleksi. Pendekatan ini penting agar masyarakat tidak hanya melihat keris sebagai benda dengan keindahan visual, tetapi juga memahami proses penciptaan dan pengetahuan yang melatarbelakanginya.

Di balik setiap keris terdapat keterampilan yang menuntut ketekunan, pengalaman, serta penguasaan teknik pengolahan logam. Peran empu menjadi bagian penting dalam mata rantai pewarisan pengetahuan tersebut. Oleh sebab itu, pelindungan tradisi perkerisan juga berkaitan erat dengan keberlanjutan profesi pembuat keris dan regenerasi generasi penerusnya.

Hari Keris Nasional Jadi Momentum Penguatan Apresiasi

Fadli Zon juga menyoroti pentingnya penetapan 19 April sebagai Hari Keris Nasional. Penetapan yang disebut telah dilakukan pada tahun sebelumnya itu diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan penghargaan masyarakat terhadap keris sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa.

Peringatan Hari Keris Nasional dapat dimanfaatkan untuk memperluas kegiatan edukasi, pameran, diskusi kebudayaan, demonstrasi teknik pembuatan keris, serta pertemuan antara empu, peneliti, akademisi, dan komunitas perkerisan.

Lebih jauh, peringatan tersebut perlu diarahkan agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Momentum ini dapat menjadi sarana untuk memperkuat dokumentasi pengetahuan tradisional, mendukung pelaku budaya, mendorong penelitian, serta membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi generasi muda.

Dengan demikian, apresiasi terhadap keris tidak hanya diwujudkan melalui pengakuan terhadap nilai sejarah dan keindahannya, tetapi juga melalui upaya menjaga agar tradisi tersebut tetap dipraktikkan, dipelajari, dan diwariskan.

Kemenbud Dorong Pengelolaan Museum Yang Profesional dan Kolaboratif

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa perubahan nama Museum Pusaka menjadi Museum Keris Indonesia merupakan bagian dari penajaman identitas dan orientasi pengelolaan museum.

“Perubahan nama Museum Pusaka menjadi Museum Keris Indonesia merupakan bagian dari penajaman identitas dan orientasi pengelolaan. Keris menjadi fokus utama yang diangkat melalui penyajian koleksi dan informasi, sehingga karakter museum lebih jelas dan pesan edukasinya dapat disampaikan secara terarah kepada pengunjung,” jelas Restu Gunawan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pengelola TMII, para empu keris, dan komunitas perkerisan yang telah berkontribusi dalam mendukung revitalisasi museum.

“Kami berharap museum ini dapat terus dikembangkan menjadi lembaga yang dikelola secara profesional, terbuka terhadap kolaborasi, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi pelindungan serta pemajuan kebudayaan Indonesia,” tuturnya.

Menurut Restu, pengembangan museum membutuhkan kerja sama berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dunia usaha, hingga masyarakat luas. Kolaborasi tersebut diperlukan agar museum dapat menjalankan fungsi pelindungan sekaligus memperluas pemanfaatan warisan budaya secara bertanggung jawab.

Pengelolaan yang profesional juga perlu ditopang oleh dokumentasi koleksi yang memadai, penelitian berkelanjutan, peningkatan kualitas layanan pengunjung, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan informasi kebudayaan.

Tantangan Berikutnya: Menjadikan Museum Sebagai Ruang Budaya Yang Hidup

Peresmian Museum Keris Indonesia menjadi langkah penting dalam upaya memperkuat pelindungan warisan budaya Nusantara. Namun, keberhasilan revitalisasi museum pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh perubahan nama, pembaruan fasilitas, atau jumlah koleksi yang dimiliki.

Ukuran keberhasilan yang lebih mendasar terletak pada kemampuan museum menghadirkan pengetahuan yang dapat diakses publik, membangun keterlibatan masyarakat, mendukung keberlanjutan tradisi, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap kebudayaan Indonesia.

Museum juga memiliki peluang untuk menjadi ruang pertemuan lintas generasi, tempat para empu berbagi pengetahuan dengan pelajar, peneliti mendokumentasikan tradisi, serta komunitas memperkenalkan keris melalui kegiatan yang edukatif dan inklusif.

Pengembangan ekonomi budaya pun perlu dilakukan dengan tetap mengutamakan pelindungan nilai, integritas sejarah, dan penghormatan terhadap komunitas pemilik tradisi. Pemanfaatan kebudayaan untuk pendidikan, pariwisata, dan kegiatan ekonomi harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya itu sendiri.

Dalam peresmian tersebut, turut hadir Pelaksana Tugas Direktur Operasi PT Bumi Visatanda Indonesia, Ratri Paramita, para empu dan maestro keris, budayawan, serta komunitas perkerisan Nusantara.

Fadli Zon didampingi Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra.

Hadir pula Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono, Penasihat Menteri Kebudayaan Bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum Putu Supadma Rudana, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estianty Nurjadin, serta jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan.

Melalui revitalisasi dan peresmian Museum Keris Indonesia, pemerintah diharapkan dapat memperkuat komitmen pelestarian budaya secara berkelanjutan. Museum ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menjadi pusat pengetahuan, ruang dialog kebudayaan, dan sarana pewarisan nilai-nilai luhur Nusantara.

Pada akhirnya, menjaga keris berarti menjaga lebih dari sekadar sebuah artefak. Di dalamnya terdapat jejak sejarah, kecakapan teknologi tradisional, ekspresi seni, dan pengetahuan yang membentuk perjalanan kebudayaan Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh warisan tersebut tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *