Menbud Fadli Zon Tekankan Kekayaan Musik Tradisi Daerah, Dorong Jadi Kekuatan Ekonomi Budaya

Berita93 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menekankan pentingnya menjaga, mengembangkan, dan menghidupkan ekosistem musik tradisi di berbagai daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Menurutnya, musik tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga memiliki potensi menjadi kekuatan ekonomi dan industri budaya yang memberi manfaat bagi masyarakat pelakunya.

Pesan tersebut disampaikan Fadli saat membuka rangkaian Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026-2027 melalui kegiatan Sangitaloka di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

FMTI 2026 mengusung tema “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara” dan akan digelar di 10 kota. Kabupaten Bogor dipilih sebagai lokasi pembuka dengan mengangkat tema lokal “Bambu dan Bunyi Ritus”, yang merefleksikan eratnya hubungan masyarakat Sunda dengan bambu, musik, alam, serta berbagai praktik kebudayaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Fadli mengatakan, penyelenggaraan FMTI di berbagai daerah penting untuk memastikan musik tradisi tetap memiliki ruang di tengah derasnya perkembangan berbagai genre musik, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Kita harus hadir di berbagai lokus, tempat, yang sekarang ini memiliki banyak persaingan dengan berbagai genre musik yang ada di Indonesia dan di dunia. Merajut bayang-bayang berarti juga mempertemukannya, menenun menjadi satu kain yang dapat kita lihat dan rawat bersama,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis, pada (4/10/2026).

Menurut Fadli, Indonesia memiliki kekayaan musik tradisi yang sangat beragam. Kekayaan tersebut tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari ekosistem kesenian yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di daerah masing-masing.

Ia mencontohkan Didong di Dataran Tinggi Gayo, Dol di Bengkulu, Talempong di Tanah Datar, Gendang Beleq di Lombok, Bundengan di Wonosobo, hingga Angklung Gubrag di Bogor.

“Ada Didong di Dataran Tinggi Gayo, Dol di Bengkulu, Talempong di Tanah Datar, Gendang Beleq di Lombok, Bundengan di Wonosobo, Angklung Gubrag di Bogor. Dan semua lahir dari ekosistem kesenian yang kuat dan bertahan karena dijaga oleh masyarakatnya sendiri,” kata Fadli.

Bambu dan Bunyi Ritus

Dalam penyelenggaraan FMTI di Kabupaten Bogor, tema “Bambu dan Bunyi Ritus” menjadi titik penting untuk menggali kembali hubungan antara musik tradisi, lingkungan, dan kehidupan masyarakat Sunda.

Bambu tidak hanya dipandang sebagai bahan untuk membuat alat musik. Dalam kehidupan masyarakat Sunda, bambu memiliki fungsi sosial, lingkungan, simbolik, sekaligus kultural. Dari material tersebut lahir berbagai bentuk bunyi yang kemudian berkembang menjadi bagian dari ekspresi seni dan praktik budaya masyarakat.

Fadli mengatakan, bunyi yang lahir dari bambu merekam hubungan manusia dengan lingkungan sekaligus mencerminkan perjalanan kebudayaan masyarakat yang melahirkannya.

“Bunyi yang lahir dari bambu membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya. Musik adalah jiwa budaya dan suara zaman, denyut nadi kehidupan bangsa,” ujarnya.

Menurut dia, keberadaan festival seperti FMTI penting bukan hanya sebagai panggung pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertemukan seniman, komunitas, masyarakat, pengetahuan tradisi, serta generasi muda.

Jangan Berhenti Pada Pelestarian

Fadli menegaskan pelestarian musik tradisi tidak boleh berhenti pada upaya menjaga bentuk kesenian agar tetap ada. Musik tradisi, kata dia, perlu terus dikembangkan melalui kreativitas dan inovasi dengan tetap memperhatikan akar serta nilai budaya yang dikandungnya.

“Jadi ini yang harus kita jaga bersama. Bukan hanya kita jaga dan lindungi, lebih dari itu, harus kita kembangkan dengan kreasi-kreasi baru, inovasi-inovasi baru,” tegas Fadli.

Ia menilai pengembangan tersebut penting agar musik tradisi tidak hanya bertahan sebagai peninggalan budaya, tetapi mampu menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.

“Dan kemudian kita manfaatkan menjadi ekonomi budaya, menjadi industri budaya, supaya apa yang menjadi modal budaya kita itu, menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi ekonomi masyarakat pelakunya,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut menempatkan seniman dan komunitas tradisi bukan hanya sebagai penjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam pengembangan ekonomi berbasis kebudayaan.

Sangitaloka Jadi Ruang Pertemuan

Asisten PIC Lokal, Deden Fahmi Fadilah, mengatakan Kabupaten Bogor menjadi pembuka rangkaian FMTI 2026-2027. Menurut dia, Sangitaloka dirancang sebagai ruang pelestarian, apresiasi, sekaligus kreasi bagi pelaku musik tradisi di Kabupaten Bogor dan Jawa Barat.

“Dengan nama Sangitaloka dan mengusung tema Bambu dan Bunyi Ritus diharapkan dapat menjadi ruang pelestarian, ruang apresiasi, serta ruang kreasi yang bermakna dan berkelanjutan bagi insan-insan musik tradisi di Kabupaten Bogor dan Jawa Barat pada umumnya,” ujar Deden.

Sejumlah kelompok dan pelaku seni turut tampil dalam kegiatan tersebut. Mereka antara lain Jagat Layung, Kalingga, Gamelan Cibatokan, Angklung Gubrag Dogdog Lojor, Bilik Jasinga, Gamelan Ajeng, dan Bajidoran. Festival tersebut juga menghadirkan penyanyi Rita Tila sebagai bintang tamu.

Selain pertunjukan, FMTI memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dinilai berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkan ekosistem musik tradisi.

Aki Jatnika dan Endo Suanda mendapat penghargaan sebagai Penggerak Ekosistem Musik Tradisi. Sementara Ariyansyah atau Ki Jawer menerima penghargaan sebagai Penjaga Musik Nusantara, dan Lawe Samagaha sebagai Penggerak Tata Kelola FMTI.

Melalui FMTI, Kementerian Kebudayaan mendorong musik tradisi untuk tidak hanya bertahan di tengah perubahan zaman, tetapi juga memperoleh ruang tumbuh yang lebih luas. Perjumpaan antarseniman, komunitas, pengetahuan, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat ekosistem musik tradisi sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi budaya di daerah.

Dengan demikian, kekayaan musik tradisi Indonesia tidak berhenti sebagai arsip kebudayaan, melainkan terus hidup, beradaptasi, dan memberi nilai bagi generasi yang akan datang.

Ervinna

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *