Menperin Tegaskan Industri Manufaktur Masih Ekspansi, 14 Subsektor Tumbuh Positif

Berita73 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Perindustrian Sarmuji menegaskan bahwa industri manufaktur nasional masih berada dalam fase ekspansi dan belum menunjukkan gejala kontraksi. Kondisi tersebut tercermin dari sejumlah indikator kinerja industri yang tetap berada di atas ambang batas ekspansi, ditopang pertumbuhan output manufaktur yang mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional hingga kuartal II 2026.

Pemerintah menilai capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi ketahanan sektor industri pengolahan di tengah berbagai tantangan ekonomi dan dinamika dunia usaha. Meski demikian, penguatan produktivitas, peningkatan utilisasi pabrik, serta perbaikan ekosistem industri dinilai tetap menjadi pekerjaan penting untuk menjaga momentum pertumbuhan.

“Dari survei manufaktur levelnya ekspansi di atas 50 persen, Indeks Kepercayaan Industri juga sekitar 53 persen, yang berarti industri dalam level ekspansi, bukan kontraksi sebagaimana dipikirkan banyak orang,” kata Sarmuji dalam acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, pada (31/10/2026).

Menurut Sarmuji, indikator tersebut menunjukkan bahwa aktivitas produksi dan tingkat kepercayaan pelaku industri masih terjaga. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada di kisaran 53 poin memperlihatkan sektor manufaktur masih memiliki ruang pertumbuhan, sekaligus mencerminkan optimisme dunia usaha terhadap prospek aktivitas industri ke depan.

Ia menambahkan, kinerja manufaktur hingga kuartal II 2026 juga menunjukkan perkembangan yang relatif konsisten. Pertumbuhan sektor industri bahkan tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Sampai kuartal kedua datanya relatif serupa, yaitu pertumbuhan sektor industri di atas sedikit dari pertumbuhan ekonomi, artinya kita lagi dalam prospek yang cukup baik,” ujarnya.

Optimisme pemerintah turut didukung oleh perkembangan mayoritas subsektor industri pengolahan. Dari keseluruhan subsektor yang dipantau, sebanyak 14 subsektor mencatatkan pertumbuhan positif, sementara industri pengolahan tembakau menjadi satu-satunya subsektor yang belum mengalami pertumbuhan.

Sarmuji secara khusus menyoroti kinerja industri alas kaki dan furnitur yang mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 10 persen. Kedua sektor tersebut dinilai memiliki peran strategis karena tidak hanya mendorong peningkatan nilai tambah industri, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Ada 14 subsektor industri yang mengalami pertumbuhan dan hanya pertembakauan yang tidak tumbuh, bahkan industri alas kaki dan furnitur tumbuh sangat besar di atas 10 persen serta menggembirakannya menyerap tenaga kerja dalam jumlah cukup banyak,” tuturnya.

Pertumbuhan industri padat karya tersebut menjadi perkembangan penting di tengah kebutuhan penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi daerah. Industri alas kaki dan furnitur memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor pendukung, mulai dari bahan baku, komponen, logistik, hingga distribusi.

Dengan demikian, peningkatan aktivitas produksi pada kedua sektor tersebut berpotensi memberikan efek berganda terhadap perekonomian, terutama melalui penyerapan tenaga kerja, penguatan rantai pasok domestik, serta peningkatan aktivitas usaha di daerah sentra industri.

Ke depan, Kementerian Perindustrian akan memprioritaskan peningkatan kapasitas produksi industri nasional melalui optimalisasi fasilitas manufaktur yang telah tersedia. Salah satu sasaran utama pemerintah adalah meningkatkan tingkat utilisasi pabrik dari yang saat ini mendekati 70 persen menjadi 80–85 persen.

Strategi tersebut dinilai penting agar investasi industri yang sudah tertanam dapat memberikan kontribusi ekonomi secara lebih maksimal. Pemerintah tidak hanya mendorong pembangunan fasilitas produksi baru, tetapi juga memastikan kapasitas industri yang telah tersedia mampu beroperasi lebih produktif dan efisien.

“Industri kita insyaallah tetap tumbuh dan kami manfaatkan momentum ini dengan fokus menciptakan ekosistem lebih baik serta mendorong utilisasi pabrik dari hampir 70 persen menuju 80 hingga 85 persen, karena memaksimalkan industri terpasang akan menyumbang kontribusi lebih besar apalagi jika ada investor baru,” jelas Sarmuji.

Peningkatan utilisasi tersebut membutuhkan dukungan ekosistem industri yang lebih kompetitif, termasuk kepastian regulasi, kemudahan perizinan, ketersediaan bahan baku, infrastruktur logistik, akses pembiayaan, serta kepastian pasar. Faktor-faktor tersebut menjadi penting untuk memastikan pelaku usaha memiliki insentif yang kuat dalam meningkatkan produksi maupun memperluas investasinya.

Di sisi lain, masuknya investor baru diharapkan mampu memperkuat kapasitas manufaktur nasional, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar internasional.

Meski indikator manufaktur menunjukkan tren ekspansi, pemerintah tetap perlu memastikan pertumbuhan tersebut berlangsung secara merata dan berkelanjutan. Angka ekspansi dan peningkatan output harus diikuti dengan penguatan produktivitas, peningkatan daya saing, serta bertambahnya kontribusi industri terhadap penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah ekonomi.

Optimalisasi utilisasi pabrik juga menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur kemampuan industri dalam memanfaatkan investasi yang sudah tersedia. Semakin tinggi tingkat utilisasi, semakin besar peluang peningkatan produksi tanpa harus selalu mengandalkan pembangunan fasilitas baru.

Karena itu, agenda penguatan industri nasional ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada optimisme terhadap indikator survei. Pemerintah dan dunia usaha perlu memastikan bahwa ekspansi manufaktur benar-benar tercermin dalam peningkatan kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, penguatan industri hulu-hilir, serta peningkatan investasi yang berkualitas.

Dengan 14 subsektor yang mencatatkan pertumbuhan positif dan sejumlah industri padat karya yang tumbuh di atas 10 persen, manufaktur nasional memiliki modal awal untuk mempertahankan momentum ekspansi. Tantangan selanjutnya adalah mengubah momentum tersebut menjadi pertumbuhan industri yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing tinggi.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *