Oleh Yus Dharman,SH.,MM ,M.Kn
Advokat/Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
DetikSR.id Jakarta 2 April 2026 – Prinsip politik luar negeri semua negara sama saja, memprioritaskan pada kepentingan negaranya, Mereka akan menghitung untung-rugi jika bergabung dengan AS+Israel untuk ikut perang, Jika ikut perang menguntungkan pasti mereka gabung, tapi jika potensi ruginya lebih besar, mereka pilih jadi penonton.
Negara-negara dengan militer kuat sekalipun seperti Inggris, Jerman, dan Prancis yang sering bergabung dengan AS dalam berbagai agresi ke negara lain, bertindak lamban saat diminta Donal Trump mengirim kapal perang ke selat hormus untuk memerangi IRAN agar tidak memblokade kapal-kapal tanker pengangkut minyak, bukan berarti mereka loyal dengan Iran, melainkan disebabkan mereka belum yakin, AS+Israel akan menang lawan Iran.
Seperti yang kita ketahui, sesuai hukum perang, yang Menang akan mendapat bagian harta Rampasan perang (spoils of war), milik kekayaan Negara yang kalah, sesuai kesepakatan.
Pembagian nya tentu akan di klasifikasikan, Negara yang berperan paling besar, akan mendapat bagian terbesar, Sedangkan Yang terlambat gabung akan dapat bagian sedikit.
Hampir mirip dengan koalisi parpol di negara kita, Bagi-bagi nya.
Biasa nya selama situasi belum pasti, negara-negara itu cuma akan mengamati tiap perkembangan perang. Sambil wait and see,
Jika Iran melemah, pasti mereka akan bergabung dengan AS+Israel.
Sebaliknya, jika yang menang Iran
Negara-negara itu akan putar arah, balik badan merapat ke Iran, Rusia dan China, siap-siap untuk beradaptasi.
Menurut berita, beberapa hari sebelum Idul Fitri, Iran mengurangi intensitas serangan, Inggris pun buru-buru membuka pangkalan militernya di Diego Garcia membantu AS, beranggapan Islamic Revolutionary Guard Corp (IRGC) sudah melemah, tetapi begitu Iran meluncurkan rudal-rudal terbarunya untuk meningkatkan ekskalasi perang, termasuk ke Pangkalan militer Diego Garcia itu sendiri, tiba-tiba Inggris tidak ber reaksi, hanya jadi penonton saja, artinya Iran masih terlalu kuat untuk dikeroyok.
Lalu Bagaimana dengan posisi Indonesia, apabila Iran menang perang? Padahal sudah terlanjur berpihak ke AS+Israel ?
Siap-siap menghadapi dilema, maju kena mundur kena.(*/Red)






