DetikSR.id Jakarta, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan. Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang Garuda melemah hingga menyentuh level Rp18.145 per dolar AS pada 2 November 2026. Posisi tersebut menunjukkan pembalikan arah dibandingkan akhir September 2026, ketika rupiah sempat menguat ke level Rp17.830 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, tekanan terhadap rupiah meningkat sepanjang Oktober hingga awal November 2026. Pelemahan ini mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
“Di akhir September 2026 rupiah mengalami penguatan di level Rp17.830, namun di Oktober dan November mengalami pelemahan sehingga posisi di 2 November menjadi Rp18.145 per dolar AS,” kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, pada (3/11/2026).
Jika dibandingkan dengan posisi akhir September, rupiah telah melemah sebesar Rp315 per dolar AS atau sekitar 1,77%. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih berlanjut memasuki November.
Destry menjelaskan, pelemahan rupiah terutama dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor eksternal. Tiga faktor utama yang menjadi sumber tekanan adalah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat, serta perubahan sentimen investor global terhadap aset-aset di negara berkembang.
“Pelemahan dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter AS dan sentimen investor global terhadap aset negara berkembang,” paparnya.
Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor global untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan modalnya, terutama pada instrumen investasi di negara berkembang yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi.
Di sisi lain, pengetatan kebijakan moneter AS turut menjadi faktor yang perlu dicermati. Kebijakan moneter yang lebih ketat dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan berbasis dolar AS, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Perubahan preferensi investor global terhadap aset negara berkembang juga dapat memengaruhi arus modal dan permintaan terhadap mata uang domestik. Dalam situasi ketidakpastian global, pergerakan modal internasional menjadi salah satu faktor yang dapat memperbesar volatilitas nilai tukar.
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar, BI memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang kuat. Destry mengungkapkan, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,3 bulan impor, atau sekitar 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang sebesar tiga bulan impor,” ujar Destry.
Posisi cadangan devisa tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menilai ketahanan eksternal Indonesia. Ketersediaan cadangan devisa memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing, termasuk menghadapi tekanan terhadap nilai tukar akibat gejolak eksternal.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tetap menjadi perhatian karena pergerakan nilai tukar memiliki implikasi terhadap perekonomian nasional. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk barang baku, barang modal, serta sejumlah komoditas yang transaksinya menggunakan dolar AS.
Apabila tekanan berlangsung dalam waktu lama, kenaikan biaya impor juga dapat meningkatkan beban produksi dunia usaha dan berpotensi diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen. Selain itu, pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban pembayaran kewajiban luar negeri dalam denominasi dolar AS.
Dengan demikian, perkembangan nilai tukar rupiah tidak hanya berkaitan dengan dinamika pasar keuangan, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap stabilitas harga, kegiatan usaha, dan kondisi perekonomian secara keseluruhan.
Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, perkembangan rupiah dan kecukupan cadangan devisa menjadi dua indikator penting yang akan terus dicermati pasar. Ketahanan eksternal Indonesia menjadi salah satu faktor penentu dalam menghadapi potensi gejolak pasar keuangan internasional ke depan.
Ervinna












