TNI AD Tertibkan Bendera Bulan Bintang di Pidie, Bentrokan Pecah: 1 Warga Tewas, 13 Terluka

Berita77 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Penertiban pengibaran bendera Bulan Bintang di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, oleh TNI Angkatan Darat (AD) bersama unsur terkait berujung bentrokan. Dalam peristiwa tersebut, satu warga dilaporkan meninggal dunia, 13 warga lainnya mengalami luka-luka, sementara enam personel TNI turut menjadi korban luka.

Penertiban dilakukan oleh personel Kodim 0102/Pidie setelah upaya persuasif melalui komunikasi dan mediasi dengan panitia penyelenggara tidak mencapai kesepakatan. Aparat sebelumnya telah meminta agar bendera Bulan Bintang tidak dikibarkan dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di Meunasah Desa Pulo Keunari.

Namun, panitia tetap bersikeras mengibarkan bendera tersebut sehingga aparat akhirnya mengambil langkah penertiban.

“Dalam menjaga keamanan dan keutuhan NKRI, TNI AD senantiasa mengedepankan langkah persuasif, komunikasi sosial, serta sinergi dengan Polri, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat,” demikian keterangan Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau), pada (5/11/2026).

Situasi di lapangan kemudian meningkat ketika sejumlah orang melakukan aksi pelemparan batu dan kayu ke arah personel TNI. Beberapa orang juga terlihat membawa senjata tajam, sehingga kondisi keamanan semakin tidak terkendali.

TNI AD menyatakan personel telah berupaya meredam situasi dan membubarkan massa menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara. Namun, karena aksi anarkis terus berlangsung dan keselamatan personel dinilai terancam, aparat melakukan tindakan pengamanan secara bertahap.

Langkah tersebut diawali dengan tembakan peringatan menggunakan munisi hampa, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan munisi karet.

“Setelah massa membubarkan diri, personel TNI menurunkan bendera Bulan Bintang di lokasi kegiatan. Penertiban tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan wilayah serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” demikian keterangan tersebut.

14 Warga dan Enam Personel TNI Menjadi Korban

Dampak bentrokan tersebut cukup serius. Sebanyak 14 warga tercatat menjadi korban, dengan rincian satu orang meninggal dunia dan 13 lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, enam personel TNI juga mengalami luka dan telah mendapatkan penanganan medis sesuai kondisi masing-masing.

Korban meninggal dunia diketahui bernama Abzalul Riza, warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Jenazah korban telah dimakamkan pada (5/11/2026) sekitar pukul 01.00 WIB di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie.
TNI AD menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa mendalam atas meninggalnya warga dalam insiden tersebut.

TNI juga berharap seluruh korban luka segera pulih serta memastikan koordinasi dengan aparat terkait terus dilakukan untuk memantau perkembangan situasi.

Antisipasi Kegiatan Syiar Aceh Merdeka

Di tengah penertiban di Pidie, TNI AD juga melakukan langkah antisipasi terhadap rencana kegiatan Syiar Aceh Merdeka di Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.

Personel Kodim 0102/Pidie bersama personel Bawah Kendali Operasi (BKO) melaksanakan patroli dan komunikasi sosial dengan masyarakat guna menjaga stabilitas keamanan.

Kegiatan yang semula direncanakan berlangsung di Desa Udeung Poroh akhirnya dipindahkan ke Makam Abdullah Syafi’i, Desa Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.

Situasi Berangsur Kondusif

Hingga pada (5/11/2026) pukul 04.30 WIB, situasi keamanan di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, dilaporkan secara umum telah kondusif.

Meski demikian, personel TNI masih melaksanakan pemantauan dan koordinasi dengan aparat terkait guna mencegah terjadinya gangguan keamanan susulan serta memastikan ketertiban masyarakat tetap terjaga.

Insiden ini menjadi perhatian serius karena penertiban yang diawali dengan pendekatan persuasif berakhir dengan jatuhnya korban jiwa dan puluhan korban luka. Penanganan lebih lanjut, termasuk penelusuran menyeluruh atas kronologi penggunaan kekuatan dan penyebab jatuhnya korban, menjadi penting untuk memastikan peristiwa tersebut ditangani secara transparan, profesional, dan sesuai ketentuan hukum.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *