Fadli Zon: RI Resmikan Pusat Riset Animasi dan Game Nasional di Shanghai, Jadi Tonggak Baru Kerja Sama Budaya Digital

Nasional71 Dilihat

DetikSR.id Shanghai, Pemerintah Indonesia meresmikan Pusat Penelitian dan Pengembangan Bersama Animasi dan Video Game Sino-Indonesia di Shanghai, China, sebagai langkah strategis memperkuat kerja sama budaya digital antara Indonesia dan China. Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, pada (25/4/2026).

Kehadiran pusat riset tersebut menjadi tonggak baru hubungan bilateral kedua negara, khususnya dalam pengembangan industri animasi, video game, kekayaan intelektual berbasis budaya, peningkatan kualitas talenta kreatif, serta kolaborasi riset dan industri.

Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa pusat ini mencerminkan perubahan arah kerja sama budaya dari sekadar pertukaran menjadi penciptaan bersama yang produktif.

“Hari ini, kita membuka ruang baru bagi perjumpaan antara budaya, teknologi, talenta, kreativitas, dan masa depan. Pusat ini menandai pergeseran dari cultural exchange menuju cultural co-creation, dari pertukaran karya menuju produksi bersama yang menghasilkan talenta, IP, riset, teknologi, dan karya kreatif yang menjangkau dunia,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya, pada (26/4/2026).

Menurutnya, selama 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan China, kerja sama kedua negara telah dibangun di atas fondasi sejarah, perdagangan, diplomasi, serta hubungan antar masyarakat (people-to-people relations). Kini, kerja sama itu diyakini akan semakin digerakkan generasi baru dari sektor ekonomi kreatif digital.

“Ke depan, hubungan tersebut akan semakin banyak digerakkan oleh generasi baru, termasuk animator, pengembang game, storyteller, desainer karakter, seniman visual, programmer, produser, akademisi, dan entrepreneur digital,” katanya.

Fadli Zon menilai China saat ini merupakan salah satu pusat industri budaya digital terbesar di dunia dengan kekuatan teknologi, kapasitas produksi, distribusi, dan komersialisasi yang sangat maju.

Sementara Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan beragam sebagai sumber inspirasi karya kreatif.
“Bagi para kreator, Indonesia adalah semesta cerita. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan budaya ini diolah secara kreatif, akurat, dan kompetitif bagaimana budaya tidak berhenti sebagai ornamen visual, tetapi menjadi sumber pengetahuan, narasi, karakter, dan world-building yang kuat,” tegasnya.

Menurut dia, kombinasi antara teknologi China dan kekayaan budaya Indonesia berpotensi melahirkan produk animasi serta game yang mampu bersaing di pasar global.

Fadli Zon menekankan bahwa animasi dan game merupakan bagian penting dari Cultural and Creative Industries (CCIs) yang memiliki nilai ekonomi sangat besar.

Industri game global diproyeksikan menembus lebih dari 275 miliar dolar AS pada 2026, didorong pertumbuhan mobile gaming, e-sports, cloud gaming, dan distribusi digital.

Indonesia sendiri dinilai berada di tengah momentum besar tersebut. Pada kuartal I 2026, Indonesia mencatat sekitar 870 juta unduhan game mobile, tertinggi di Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia memiliki sekitar 192 juta gamer atau sekitar 43 persen dari total gamer Asia Tenggara. Nilai pasar game nasional diperkirakan mencapai 2,5 miliar dolar AS.

Namun, ia mengingatkan bahwa pasar domestik masih didominasi produk asing, sementara kontribusi game lokal relatif kecil.
“Kita harus memastikan bahwa Indonesia tidak berhenti sebagai konsumen, tetapi mulai bergerak menjadi produsen, pencipta, pengembang, dan eksportir IP budaya digital,” ujarnya.

Untuk itu, menurutnya, Indonesia perlu memperkuat ekosistem industri melalui dukungan pembiayaan, riset, teknologi, peningkatan kualitas SDM, pemasaran, distribusi, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual.

Dalam kerangka kebijakan nasional, Kementerian Kebudayaan juga terus memperkuat agenda budaya digital melalui pembangunan Cultural Data Hub, penyusunan standar digitalisasi budaya, penguatan IP berbasis budaya, serta pengembangan ekosistem inovasi seperti kecerdasan buatan (AI), AR/VR, game, animasi, instalasi digital, dan video mapping.

Melalui program Gerbang Budaya Indonesia, kementerian telah menghimpun ribuan data budaya dalam bentuk foto, video, model tiga dimensi, realitas virtual, hingga peta digital.
Selain itu, digitalisasi warisan budaya juga menghasilkan lebih dari 4.300 aset budaya, termasuk pemodelan dan pemindaian 3D.

“Kita berada pada masa ketika batas antara budaya, teknologi, dan ekonomi semakin menyatu. Warisan budaya harus kita lindungi, tradisi harus kita hidupkan, dan komunitas budaya harus diperkuat. Pada saat yang sama, kebudayaan Indonesia harus hadir di ruang digital, masuk ke rantai nilai ekonomi, menjadi sumber IP, dan menjangkau generasi baru di seluruh dunia,” kata Fadli Zon.

Ia berharap pusat tersebut menjadi jembatan antara teknologi China dan imajinasi budaya Indonesia, mempertemukan talenta muda kedua negara dengan pasar global, sekaligus mempererat persahabatan diplomatik melalui karya kreatif nyata.
“Semoga pusat ini menjadi ruang kolaborasi yang produktif, inklusif, berkelanjutan, dan membawa manfaat besar bagi masa depan kedua bangsa,” pungkasnya.

Peresmian pusat riset ini turut dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan RI Prof. Bambang Wibawarta, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah Retnoastuti, Rektor Universitas Indonesia Prof. Heri Hermansyah, Konsul Jenderal RI di Shanghai Berlianto Situngkir, serta para mitra industri, akademisi, pengembang game, dan kreator digital dari kedua negara.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *