Menpora Erick Thohir: Naturalisasi Atlet Terbuka Untuk Semua Cabang Olahraga, Jadi Strategi Penguatan Prestasi Internasional

Berita97 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan pemerintah terbuka terhadap proses naturalisasi atlet di berbagai cabang olahraga sebagai bagian dari strategi memperkuat daya saing Indonesia di tingkat internasional.

Kebijakan tersebut tidak hanya difokuskan pada sepak bola, tetapi juga dapat diterapkan pada cabang olahraga lain yang memiliki potensi mendongkrak prestasi Merah Putih.

Pernyataan tersebut disampaikan Erick Thohir dalam rapat kerja bersama Menteri Hukum dan Komisi XIII DPR RI terkait permohonan pemberian kewarganegaraan Republik Indonesia kepada dua pesepak bola keturunan, Luke Anthony Vickery dan Mitchell Lee Baker, di Jakarta, pada (17/6/2026).

Menurut Erick, pemerintah menyambut baik kehadiran atlet-atlet diaspora yang memiliki keterikatan emosional dengan Indonesia dan berkomitmen membela Merah Putih di ajang internasional.
“Selama warga diaspora memang punya jiwa Merah Putih, baik di sepak bola, renang, maupun cabang-cabang olahraga lainnya, kami membuka diri,” ujar Erick.

Erick menjelaskan bahwa globalisasi telah mengubah lanskap olahraga dunia. Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi membuat banyak atlet memiliki latar belakang keturunan dari lebih dari satu negara.

Dalam kondisi tersebut, naturalisasi menjadi salah satu instrumen yang digunakan berbagai negara untuk memperkuat tim nasional mereka.
Ia menilai Indonesia tidak boleh menutup diri terhadap perkembangan tersebut, terutama jika langkah tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan prestasi olahraga nasional.

Sebagai contoh, Erick menyoroti kiprah Zion Suzuki, penjaga gawang berdarah campuran Jepang dan Ghana yang saat ini memperkuat tim nasional Jepang pada ajang Piala Dunia 2026.

Menurutnya, Jepang telah menunjukkan bagaimana atlet dengan latar belakang multikultural dapat menjadi bagian penting dalam pembangunan prestasi olahraga nasional.

Tidak hanya di sepak bola, Jepang juga memanfaatkan potensi atlet keturunan di berbagai cabang olahraga lainnya. Salah satunya adalah pebasket Rui Hachimura, yang memiliki darah Jepang dan Benin serta berhasil menembus kompetisi bola basket paling bergengsi di dunia, NBA.

Selain itu, petenis dunia Naomi Osaka, yang memiliki keturunan Jepang dan Haiti, juga menjadi salah satu ikon olahraga Jepang di panggung internasional.

Menpora menambahkan bahwa praktik naturalisasi atlet bukan hanya dilakukan Jepang. Sejumlah negara besar lainnya juga menerapkan kebijakan serupa untuk meningkatkan daya saing olahraga mereka.

China, misalnya, berhasil memanfaatkan potensi atlet ski freestyle Eileen Gu, yang memiliki darah campuran China dan Amerika Serikat. Atlet tersebut kemudian mempersembahkan berbagai prestasi internasional bagi China, termasuk medali pada Olimpiade Musim Dingin.

Menurut Erick, keberhasilan negara-negara tersebut menunjukkan bahwa naturalisasi dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan olahraga modern apabila dilakukan secara terukur dan tetap mengedepankan kepentingan nasional.

Dalam kesempatan itu, Erick juga mengingatkan bahwa fenomena perpindahan kewarganegaraan atlet terjadi dua arah. Tidak sedikit atlet Indonesia yang pada akhirnya membela negara lain dan meraih prestasi di bawah bendera negara baru mereka.

Salah satu contohnya adalah legenda bulu tangkis Mia Audina, yang menjadi warga negara Belanda dan berhasil mempersembahkan medali perak Olimpiade Athena 2004 bagi negara tersebut.

Selain Mia Audina, mantan pebulu tangkis ganda putra Indonesia Tony Gunawan juga dinaturalisasi oleh Amerika Serikat dan kemudian memperkuat tim nasional negara tersebut dalam berbagai kejuaraan internasional.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa persaingan global dalam dunia olahraga semakin terbuka. Karena itu, Indonesia juga perlu memiliki strategi yang adaptif untuk menjaga daya saing,” kata Erick.

Erick menegaskan bahwa keberadaan atlet diaspora bukan sekadar wacana. Sejumlah atlet keturunan yang telah membela Indonesia terbukti mampu memberikan kontribusi nyata dalam bentuk prestasi dan medali.

Di cabang olahraga renang, misalnya, terdapat Masniari Wolf, atlet diaspora yang sukses menyumbangkan tiga medali emas SEA Games untuk Indonesia pada edisi 2021, 2023, dan 2025.

Selain itu, Indonesia juga diperkuat oleh perenang Felix Viktor Iberle, yang memiliki darah campuran Indonesia dan Jerman. Atlet tersebut turut memberikan kontribusi melalui raihan medali emas bagi kontingen Indonesia dalam ajang internasional.
Di cabang olahraga skateboard, terdapat talenta muda Ni Wayan Malana Fairbrother, atlet berusia 14 tahun yang memiliki keturunan Indonesia, Inggris, dan Australia.

Kehadirannya dinilai menjadi salah satu investasi jangka panjang bagi perkembangan olahraga Indonesia.

Meski membuka peluang naturalisasi, Menpora menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan pengganti program pembinaan atlet nasional.

Pemerintah tetap berkomitmen memperkuat sistem pembinaan olahraga dari tingkat akar rumput hingga level elite.

Menurut Erick, naturalisasi harus dipandang sebagai langkah pelengkap untuk mempercepat peningkatan prestasi, sementara pembinaan atlet lokal tetap menjadi fondasi utama pembangunan olahraga Indonesia.
“Potensi-potensi seperti inilah yang menjadi alasan kami membuka diri terhadap naturalisasi, tanpa cabang-cabang olahraga melupakan pembangunan dari tingkat akar rumput atau grassroots,” tegas Erick.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat memaksimalkan potensi atlet diaspora sekaligus terus melahirkan atlet-atlet unggulan dari dalam negeri, sehingga mampu bersaing secara konsisten di berbagai ajang internasional seperti SEA Games, Asian Games, Olimpiade, hingga kejuaraan dunia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *