SIHIR UANG KERTAS

Berita580 Dilihat

Oleh Yus Dharman,SH.,MM ,M.Kn
Advokat/Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)

DetikSR.id Jakarta 26 Februari 2026 – Pada Zaman dahulu, emas merupakan alat tukar utama, karena dirasakan berat membawa emas secara fisik kemana-mana, dan beresiko tinggi. Pada abad ke 13, Para pedagang kaya raya mulai memikirkan tempat untuk menitipkan emas, muncul lah gagasan mendirikan “bank” bahasa Italia “banca” atau “banco”, artinya bangku atau meja.

Sebagai gantinya, bankir memberikan resi atau secarik kertas sebagai perjanjian, bahwa pemegangnya bisa menukarkan kertas tersebut dengan emas kapan saja.

Ternyata ​kertas resi ini jauh lebih praktis untuk dibawa kemana-mana dibandingkan membawa emas fisik, sebagai contoh, Jika seseorang di Italia ingin membeli barang di Inggris, ia cukup membawa kertas resi tersebut daripada harus membawa peti berisi emas. Inilah cikal bakal berdirinya Bank dan uang kertas yang kita kenal sekarang ini.

Kemudian Secara inovatif para ​Bankir
Menciptakan alat tukar dari kertas (no value) menjadi bernilai (value)
Sedangkan emas nya dititipkan di brankas milik nya.

Karena kepraktisan nya, para orang kaya berbondong-bondong menitipkan emas di bank, lebih-lebih titipan emas tersebut jarang diambil oleh pemiliknya secara serempak. Para Bankir secara Inovatif & kreatif menggandakan “resi” tersebut untuk dipinjamkan kepada pihak lain (debitur) yang membutuhkan modal,

disinilah istilah lending and borrowing bermula, setiap nasabah titip emas di bank/uang dikasih tanda terima resi/Sertifikat deposito yang nota bene hanya kertas, sebaliknya jika nasabah mau pinjam uang dari bank, diwajibkan menyerahkan jaminan (properti) sebagai agunan (collateral).

Contoh nya : bank memiliki emas seberat 5 gram senilai Rp 10 juta. Mereka bisa mengeluarkan resi senilai Rp >20 juta (10 juta untuk pemilik emas asli, 10 juta dipinjamkan ke orang lain lagi/debitur)

Secara efektif, dari penggandaan tersebut, bank telah menciptakan kertas dari ketiadaan nilai, menjadi uang, Selama semua orang tidak meminta emas yang mereka titip di bank untuk dikembalikan (bank rush), sistem ini akan berjalan lancar, dan aman-aman saja, Inilah dasar dari sistem riba dalam perbankan, fraksional dan cikal bakal bank sentral.

​Jika bank sentral bisa mencetak uang dari ketiadaan menjadi suatu yang bernilai tidak terbatas, lalu mengapa masih banyak orang miskin ?

Apakah karena “kelangkaan” (scarcity) sumber daya ? Tentu tidak.
uang itu infinit (tak terbatas).
Wong bisa dicetak kapan saja.

Bahwa Kemiskinan tetap karena mereka yang berkuasa tidak ingin semua orang punya uang.

​​Kemiskinan memiliki fungsi vital dalam sistem ekonomi kapitalis untuk menciptakan ilusi bahwa uang itu berharga.

Maka nya uang tidak dibagikan secara cuma-cuma, ​seperti air hujan, dipersulit cara mendapatkan nya, agar nilainya tidak jatuh menjadi nol.
Jika semua orang kaya, siapa yang mau bekerja keras? Siapa yang mau melakukan pekerjaan kasar?

Begitulah sistem riba, sangat membutuhkan masyarakat miskin untuk menciptakan rasa takut dan motivasi. Orang tua menasihati anaknya untuk “belajar giat dan bekerja keras agar tidak miskin”. Sebab, Jika tidak ada orang miskin, ancaman itu hilang, dan motivasi untuk bekerja keras demi mengejar uang pun lenyap.

​Jadi, kemiskinan bukanlah kegagalan melainkan fitur dari sistem itu sendiri. Kemiskinan itu dibuat untuk memaksa manusia bekerja keras.

Namun jika kekayaan/uang sudah berlebihan (over supply), krisis harus diciptakan dengan Perang, akibatnya bursa saham hancur, nilai tukar mata uang negara lemah hancur/terdepresiasi dibandingkan dengan US$,
Fungsi utama nya untuk menjalankan roda ekonomi yang digerakkan oleh tenaga kerja manusia tetap berputar, seperti yang saat ini sedang dilakukan paman Sam ke negara-negara kaya SDA.

​Pada akhirnya, uang hanyalah konstruksi sosial. Nilai yang sesungguhnya bukanlah pada kertas atau angka di bank, melainkan pada tenaga yang Anda berikan di kompensasi dengan kertas (uang)

Begitulah mekanisme sistem ekonomi kapitalis liberal yang kita jalani saat ini, merupakan sebuah ilusi yang diciptakan untuk membuat manusia terus bekerja keras mengejar sesuatu yang sebenarnya bisa diciptakan tak terbatas oleh pemegang kekuasaan.

​seperti layaknya permainan video game, kita berlari mengejar poin (uang) yang sebenarnya bisa saja diprogram untuk muncul begitu saja. Namun, tanpa ilusi kesulitan dan kelangkaan, permainan itu jadi tidak menarik.(*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *