Oleh Yus Dharman,SH.,MM ,M.Kn
Advokat/Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
DetikSR.id Jakarta 04 Agustus 2026 – Kebenaran tidak pernah datang sebagai kabar gembira bagi mereka yang hidup dari kebohongan. Ia hadir seperti cahaya yang tiba-tiba dinyalakan di ruang gelap, memaksa semua yang tersembunyi untuk menampakkan diri. Orang-orang yang berani mengucapkannya tahu bahwa keberanian itu tidak akan dibalas dengan tepuk tangan, melainkan dengan penolakan, fitnah dan tidak jarang dilenyapkan.
Bagi Mereka yang diuntungkan oleh kebohongan, akan membangun kenyamanan dari kepalsuan yang rapi. Hidup mereka bergantung pada cerita yang dipelintir, fakta yang disamarkan, dan kesadaran orang lain yang dibutakan. Oleh sebab itu ketika kebenaran menampakan diri nya, ia dianggap ancaman, bukan pembebasan.
Kebencian menjadi reaksi natural, karena kebenaran berpotensi meruntuhkan keuntungan yang selama ini dinikmati oleh pendusta.
Mengatakan kebenaran berarti bersedia berjalan sendirian di jalan sepi. Ia menuntut keteguhan untuk tetap jujur meski disalahpahami, difitnah, diserang, dibungkam atau dipinggirkan.
Dalam situasi seperti itu, kebencian bukan lagi persoalan pribadi, melainkan tanda bahwa kebenaran telah menyentuh titik yang sensitif. Semakin keras penolakan, sering kali semakin dekat ia pada inti persoalan.
Namun kebenaran akan menemukan jalan nya sendiri, tidak pernah bertujuan untuk menyenangkan. Ia hanya ingin setia pada kenyataan. Orang yang berani mengatakannya memilih integritas daripada penerimaan, memilih keutuhan diri daripada keamanan semu. Mereka tahu bahwa hidup dalam kebohongan mungkin lebih nyaman, tetapi selalu rapuh.
Pada akhirnya, kebencian dari para pemelihara kebohongan adalah harga yang harus dibayar oleh kebenaran. Harga itu mahal, menyakitkan, dan sering tidak adil. Tetapi di sanalah martabat manusia berdiri tegak: ketika seseorang tetap berkata jujur, bukan karena aman, melainkan karena benar.(*/Red)






